Empat

Lagi dan lagi aku hanya seseorang yang tak dianggap hadirnya oleh kak vandri, selalu saja begitu sudah 2 Minggu sejak aku menjadi istrinya sama sekali tidak ada yang berubah diantara aku dan kak vandri, baik dari sikap kak vandri terhadapku.


Aku juga bingung mau bagaimana lagi, semua usaha sudah kulakukan menjadi istri terbaik buat kak vandri tapi kak vandri sama sekali tidak melihatku sebagai istrinya.


tapi aku gak akan menyerah karena aku sudah berjanji untuk bisa buat kka vandri mencintai ku, dan entah kenapa kurasa aku sedikit mulai mencintai sejak kak vandri mengikrarkan sumpah pernikahan kepadaku waktu itu.


Hati ku menghangat mendengar nya mengucap janji itu dan aku juga terpana oleh mata coklat milik kak vandri tajam, dan sangat luas seperti lautan. 


Aku hanya berharap kak vandri bisa mencintai ku agar rumah tangga yang sudah kami bina tidak sia-sia, harapan ku begitu, semoga menjadi harapan kak vandri juga.


"Mbok, ada liat kak vandri gak ya?" Tanyaku sembari turun kepada mbok merry yang sedang beberes


"Kayaknya udah berangkat kerja tuan vandri nak "jawab mbok kepadaku sambil melanjutkan pekerjaannya.


Aneh, kok tumben sekali kak vandri tidak sarapan atau bahkan menunggu ku untuk sarapan ya, apa dia ada urusan mendadak di kantornya? 

Yasudah lah mungkin saja ada hal penting sehingga kak vandri tidak bisa menungguku.


"Mbok, nova bantu ya beberes nya, nova bosen mbok" kataku sambil ikut andil dalam beberes.


Terkadang aku kagum dengan mbok merry di usia nya yg sekarang ia mampu bekerja seperti ini, padahal di mension ini ada beberapa maid lainnya tapi entah kenapa kak vandri lebih mempercayai mbok merry, kata mbok merry sih kak vandri sedari kecil udh dirawat sama mbok merry jadi hanya mbok merry yang bisa di percayai sama kak vandri apalagi soal masak memasak, memang aku akui masakan mbok merry gak kalah hebat dengan masakan mama dirumah, sedap deh pokoknya. 


Handphone ku berdering kuliat tertera nama sahabatku tersayang di layar handphone ku dan segera aku mengangkat telepon darinya. Tumben sekali pikirku.


"Moshi - moshi" jawabku mengangkat telepon dari sahabatku itu


"Apaan sih lo Nov, udah kawin lo gak usah kecentilan sama bahasa jepang anime gak jelas lo itu!!" Jawab mila kesal ketika mendengar bahasa andalanku itu


"Apaansih mil, sewot amat deh, apaan lo nelpon gue pagi-pagi begini?" Tanyaku to the poin.


Bisa kutebak pasti mila sahabatku ini ingin curhat lagi mengenai pacarnya si reza  kutukupret! 


Berulang kali aku memberi saran kepada sahabatku ini agar memutuskan reza tapi dia selalu memakai alasan bahwa ia sangat mencintai reza, yah, walaupun berulang kali di sakiti begini. 

Itulah cinta. 


Cinta itu buta nova 


itu selalu menjadi pondasi Mila sahabatku itu untuk tetap bertahan pada hubungan toxic nya dengan pacarnya si reza kutukupret.


"Gue galau nov, temenin gue dong entah kemana, seriusan kalo gue diam mulu gue bawaanya pengen nangis mulu nih nov" katanya sedih. 


dari cara bicaranya aku tahu dia memang berantakan hari ini, ya aku juga mungkin butuh suasana luar untuk membuat pikiran ku sedikit lebih tenang, aku dan kak vandri juga belum menemui titik terang dari pernikahan yang Tak Terduga ini, bahkan hari ke hari kak vandri semakin sulit untuk ku gapai, gak ada salah nya juga aku menemani mila, mungkin menghibur diri sendiri juga.


"Oke gue temenin, sekalian gue kangen sama lo mil" ungkap ku tulus kepada sahabatku seantero ini, dan sambungan telepon pun terputus


Aku bersiap untuk pergi, sebelum nya aku sudah chat kak vandri bahwa aku ingin keluar bersama mila hari ini.


To kak vandri


Kak, nova ijin keluar ya mau nemenin mila sekalian nova juga kangen mila.


Send


Belum ada balasan sama sekali dari kak vandri, aku aku sudah dijalan untuk pergi menemui mila, kami memutuskan bertemu di cafe tempat biasa, cafe favorit kami sejak masih SMA sampai saat ini, cafe yang menyimpan banyak kenangan antara aku dan sahabatku mila, sampai-sampai pemilik cafe membuat photo ku dan mila menjadi logo cafe, luar biasa bukan hehehe


"Hai mil, lo udah lama sampai nya? " Tanyaku kepada sahabat ku seraya memeluk nya, sudah lama juga aku tidan bertemu dengan nya terakhir di waktu pernikahan ku dan kak vandri dia datang paling awal dari semua tamu sambil berlari memelukku. Dia sangat antusias mendengar aku akan menikah pada waktu itu bahkan di saat aku dan kak vandri mengucapkan janji pernikahan dia menangis sendu sampai memelukku setelah acara sakral itu selesai, sahabat ku ini sangat menyayangi ku begitu juga aku.


bagaimana pun dia adalah satu-satunya orang yang selama ini selalu membantuku baik dalam hal apapun.


"Sekitaran 30 menit yang lalu kok, santai aja" jawab mila santai 


"Lo ada liat mang udin gak? Kok gue perhatiin dari tadi di cafe kagak ada mang udin?" Tanyaku ke mila soal mang udin, 


mang udin ialah pemilik cafe hampir setiap harinya mang udin disini, dan biasanya kalau mang udin di cafe pasti mang udin bakal gabung ke kami sekedar ngobrol doang. 


"Mang udin pergi, baru aja, mbak lisa lahiran katanya" jawab mila membenarkan bahwa mang udin menemui istri tercinta nya melahirkan, so sweet banget sih mereka berdua.


Setelah cerita panjang bagai kan novel klasik yang di beberkan mila sahabat ku itu kepada ku akhirnya ku beri saran kepadanya dan tentunya dibalas dengan anggukan beserta airmata yang tiada hentinya mengalir sedari ia bercerita tentang kekasih kutukupret nya itu kepadaku, 


aku tentu nya sedih melihat sahabatku di sakitin melulu oleh si kutukupret, tapi sahabatku ini juga bebal banget dalam urusan begenian, liat aja ntar saran yang aku berikan kepadanya itu hanya sebuah anggukan tanpa ada nya pergerakan dari  nya, dia tidak akan menjalankan itu.


"Lo minum dulu mil, tenaga lo udah habis nangisin cowok kayak si kutukupret itu, jangan sampek kesabaran gue juga abis ini sama dia, gue karate juga tu cowok loe" kata ku kesal sambil menyodorkan jus jeruk kesukaan kami berdua.


"Ihhh, apaan sih nov, nama dia reza tau, bukan kutukupret!!" Jawab mila kesal kepada ku karena kuberi lebel khusus kepada pacar dari sahabatku ini.


lihat saja itu, dia masih saja membela pacar kutukupret nya itu, 


hadehhhhh


sebuta apa sih cinta itu? 


Gue gak ngerti deh sama ini orang? 


Udah berulang kali di sakitin masih aja cinta sama tu kutukupret!!


Pintu cafe pun terbuka dan menampilkan wajah seseorang yang kukenal bersama gandengan nya yang sama sekali tak ku kenal sampai tiba-tiba mila sadar dan melihat itu juga.


"Nov, itu bukan nya suami lo ya? " Tanya nya yg sedikit membisik kepadaku


"Kayaknya sih iya mil" jawab ku sekenanya, aku takut membayangkan sesuatu yang dapat menyakiti hatiku.


"Apa-apaan ini maksudnya nov? Kok dia gandeng cewek lain? Mana tu cewek pakai baju kurang bahan banget, itu baju atau kain lap sih kok tipis dan tidak layak pakai sekali" kata mila ngasal sambil terus mengawasi mereka. 


Kulihat juga kak vandri tampak nya tidak risih berada di samping wanita itu, wanita itu bergeleyot manja di lengan kak vandri dan sesekali mereka tersenyum. 


senyum seperti itu lah tak pernah aku dapatkan, dengan cara apapun ku lakukan. 


bahkan di hari pernikahan antara aku dan kak vanri senyuman dari kak vanri tidak nyata sekali dan aku tahu itu, tapi bersama wanita itu kak vandri selalu tersenyum, siapa sebenarnya wanita itu?


Apa dia pacar kak vanri?


Atau teman?


Atau bahkan istri tapi tanpa di publish oleh kak vandri? 


Aku takut, takut mengira atau bahkan membayangkan hal-hal yang dapat menimbulkan rasa sakit dan sesak pada dada ku, tapi aku juga penasaran dengan wanita itu.


Mengapa wanita itu bersama kka vandri?


Apa yang mereka lakukan, mengapa mereka terlihat sangat akrab?


Lalu kemana sikap cuek dan dingin kak vandri selama ini?


Apa kak vandri hanya bersikap seperti kepada aku saja..


Ohhh, Tuhan apalagi sih ini sebanarnya, bagaimana aku menyikapi hal ini?


Kaki ku lemas sekali, bahkan aku sudah lemas melihat seperti itu, rasanya bagaikan belati menghunus jantung ku, semakin aku melihat mereka semakin aku sakit, nyata nya aku tidak bisa menghindarkan pandangan ku ke lain arah, selain ke arah mereka. 


Ingin rasa nya aku pergi saja dari tempat ini dan masuk ke kamarku seta tidak ada yang melihat ku menangis, ya, aku ingin menangis dan meninggal tempat ini, tempat ini bagaikan nereka hari ini kepadaku, aku bahkan merasa tempat yang menjadi favorit ku ini sudah berubah menjadi nereka sejak kedatangan kak vandri bersama wanita itu.


Aku terkejut melihat mila dengan segera menarik tangan ku untuk keluar dari cafe, dia membawaku ke apartemen nya, dijalan hanya ada keheningan yang pastinya mila sadar bahwa aku hanya membutuhkan keheningan saat ini. 


Sesampainya di apartemen mila aku tetap terdiam, diam dalam keheningan. Tapi aku rasa sesak itu sudah menjalar pada seluruh tubuhku. Sampai-sampai aku tidak sanggup untuk berdiri, bagaimana ini, kulihat mila juga sudah gelisah, gelisah karna aku tak kunjung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi diantara aku dan kak vandri.


"Nov, lo baik-baik aja kan?" Tanya mila dengan sangat hati-hati kepadaku.


Tapi aku langsung memeluk mila dengan erat nya, dan air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya tumpah juga tepat saat ku peluk sahabatku yang sangat aku sayangi ini, yaaa. Hanya mila yang mengerti aku saat ini. Aku akan menceritakan segala nya antara aku dan kak vandri. 


"Hiks hiks hiks, gue salah apa sih mil, kok kak vandri giniin gue?" Tanya ku terbata-bata dan mila berusaha menenangkan aku.


"Cerita in ke gue, sebenarnya apa yang terjadi antara lo sama vandri?" Tanya mila tanpa membalas pertanyaan ku tadi, mungkin dia juga sudah tidak sabar mendengar apa yang selama ini aku pendam.


"Kak vandri bilang, pernikahan kami hanya untuk ngebuat mommy kak vandri bahagia, karena pernikahan itu sudah di rancang sejak aku dalam kandungan, dan itu mutlak kata kak vandri hikss... Hiksss..." Jawabku kepada mila dengan air mata yang masih mengalir dengan deras nya.


"Trus? Perempuan tadi siapa?" Tanya mila to the point kepadaku.


"Gue gak tau mil, gue juga baru tadi kalau kak vandri ada perempuan. " Jawab ku se adanya. 


"Gak bisa di biarin ini, tu perempuan seharusnya tau, kalo lo dan vandri udah nikah!" Kata mila menegaskan kepadaku


"Trus gue harus gimana mil, gue gak berani ngelakuin apa-apa?" Tanya ku kepada mila


"Kenapa lo gak berani, vandri itu suami lo, lo harus tegas!" Lanjut mila dalam ketegasannya.


"Tapi mil, kak vandri pernah bilang, aku gak berhak buat ikut campur dalam kehidupan dia." Jawab ku pasrah ketika ku ingat kembali ucapan kak vandri yang masih membekas di hatiku.


"Hah, brengsek bener tuh curut, kalo lo gak boleh ikut campur kenapa lo dinikahin sama dia." Jawab mila, dan jawaban mila benar adanya, tapi aku terlalu takut, takut kalau kak vandri nekat berbuat apa-apa kepadaku.


"Aku takut mil hikss.. hiksss" jawabku yang membuat mila terkesiap mendengar nya, mila langsung memelukku, memelukku dengan eratnya seakan memberiku semangat, agar aku tidak serapuh ini.


Aku kembali menangis, menangis dalam pelukan mila sahabatku, sampai aku tidak sadar bahwa aku tertidur di pelukan mila. 


Aku terbangun, dan kulihat hari sudah gelap, aku terkejut. 


"Mil, kok lo gak bangunin gue sih? Gue kan harus pulang" tanya ke mila


"Gak tega gue bangunin lo, nyengak banget gue liat, gue juga baru kebangun 10 menit yang lalu" kata mila, dan kulihat dia memang baru bangun juga, terlihat sekali ences nya masih bersarang di wajah nya.


"Iyaudah, gue balik dulu ya mil. See you next time bestei muchhhh" ku cium pipinya dan langsung bergegas pulang.


Sepanjang perjalanan pulang aku gak tahu harus bilang apa ke kak vandri nantinya.


Haruskah ku tanya saja siapa perempuan itu?


Atau ku bilang saja kulihat dia bermesraan dengan perempuan lain?


Tapi bagaimana nanti kalau kak vandri tidak suka aku terlalu ikut campur urusan kehidupannya?


Apa dia nantinya memarahiku??


Aku bingung!!


Sangat bingung, apa yang harus kulakukan!


Sesampainya di mansion kulihat mobil kak vandri sudah terparkir di garasi. Dan itu artinya kak vandri sudah di mansion saat ini.


Hufftttt, aku harus bersikap biasa saja. Disaat waktu yang tepat akan ku tanyakan siapa perempuan yang bersama kak vandri itu.


Aku terkejut, dibalik pintu sudah ada mbok merry yang menunggu ku pulang.


"Nak, kamu baik-baik saja kan? Mbok khawatir kamu lama sekali pulang nak" ucap mbok merry yang menghangat kan hatiku, begitu baiknya dan perhatian nya mbok merry terhadap ku.


"Mbokk, nova baik-baik saja kok, tadi nova ketiduran di apartemen mila mbok" jawab ku mengurangi rasa cemas mbok merry. 


"Iyaudah, nova naik dulu ya mbok, mau mandi soalnya gerah banget mbok" lanjutku. 


Dan kudapati mbok merry mengangguk. Dan aku pun bergegas menuju kamar ku.















Terimakasih sudah membaca cerita aku ya teman-teman, kuharap kalian dapat membantu ku dan mendukung ku serta memberi aku saran.

Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, aku akan publish cerita setiap harinya selalu dukung aku ya temen-temen

Love and hug from me. ❤️❤️❤️



Komentar